Menjalankan bisnis online di tahun 2026 terasa berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Biaya iklan terus meningkat, biaya layanan marketplace bertambah, persaingan harga semakin ketat, sementara daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih.

Kini, seller kembali dihadapkan pada perubahan baru. Mulai 1 Juli 2026, pemerintah akan menerapkan mekanisme pemungutan pajak penghasilan melalui marketplace. Kabar ini sempat membuat banyak pelaku usaha khawatir karena muncul anggapan akan terjadi pajak ganda bagi pedagang online.

Namun, Kementerian Keuangan menegaskan bahwa tidak ada pajak baru dan tidak ada pembayaran pajak dua kali. Marketplace hanya ditunjuk sebagai pihak yang memungut dan menyetorkan pajak yang sebelumnya memang sudah menjadi kewajiban pelaku usaha.

Artinya, tantangan terbesar seller bukan semata soal pajak, tetapi bagaimana menjaga keuntungan ketika biaya operasional terus bertambah.

Pajak Bukan Musuh, Margin yang Menipis Justru Lebih Berbahaya

Banyak seller langsung fokus pada isu pajak ketika aturan baru diumumkan. Padahal, jika dihitung secara keseluruhan, ada banyak komponen lain yang justru lebih besar menggerus keuntungan.

Biaya iklan digital terus meningkat. Marketplace mengenakan berbagai biaya layanan. Ongkos operasional gudang bertambah. Belum lagi biaya packing, tenaga kerja, dan retur yang semakin sering terjadi ketika volume penjualan naik.

Dalam kondisi seperti ini, mengejar omzet saja tidak lagi cukup. Yang jauh lebih penting adalah menjaga agar setiap transaksi tetap menghasilkan keuntungan.

Jualan Lebih Banyak Belum Tentu Untung Lebih Besar

Tidak sedikit seller yang mengalami kenaikan order setiap bulan, tetapi laba bersihnya justru stagnan atau bahkan menurun.

Penyebabnya sederhana. Semakin banyak pesanan, semakin besar pula beban operasional yang harus ditangani. Kesalahan picking, salah kirim, packing yang terlambat, hingga stok yang tidak sinkron mulai bermunculan ketika bisnis tumbuh tanpa sistem yang memadai.

Akibatnya, biaya operasional ikut membengkak dan margin keuntungan semakin tipis.

Inilah alasan mengapa banyak bisnis yang terlihat ramai ternyata tidak benar-benar menghasilkan keuntungan yang optimal.

Efisiensi Menjadi Cara Baru Meningkatkan Profit

Di tengah kondisi ekonomi saat ini, seller perlu mengubah cara berpikir.

Daripada terus mengejar penjualan dengan memberikan diskon besar atau menaikkan anggaran iklan, akan lebih menguntungkan jika fokus meningkatkan efisiensi operasional.

Mengurangi satu persen kesalahan pengiriman, mempercepat proses packing, atau menekan biaya penyimpanan sering kali memberikan dampak yang lebih besar terhadap profit dibanding menambah puluhan order baru.

Semakin efisien operasional sebuah bisnis, semakin besar pula keuntungan yang dapat dipertahankan.

Operasional yang Rapi Membuat Bisnis Lebih Siap Menghadapi Perubahan

Aturan perpajakan, biaya marketplace, hingga perubahan perilaku konsumen akan terus berkembang.

Bisnis yang mampu bertahan bukan hanya yang memiliki produk terbaik, tetapi juga yang memiliki sistem operasional paling efisien.

Ketika stok selalu akurat, pesanan diproses lebih cepat, pengiriman berjalan lancar, dan retur dapat ditangani dengan baik, seller memiliki ruang yang lebih besar untuk menjaga margin keuntungan meskipun kondisi pasar berubah.

FASPOINT Membantu Seller Menjaga Profit di Tengah Biaya yang Terus Naik

Dalam situasi ekonomi seperti sekarang, setiap rupiah yang bisa dihemat memiliki dampak terhadap keuntungan bisnis.

FASPOINT membantu seller mengelola operasional melalui layanan fulfillment yang terintegrasi, mulai dari penyimpanan barang, manajemen stok real-time, picking, packing, hingga pengiriman ke pelanggan.

Didukung sistem OMS dan WMS yang terhubung dengan marketplace, FASPOINT membantu mengurangi kesalahan operasional sekaligus meningkatkan efisiensi proses pemenuhan pesanan.

Pada akhirnya, tantangan bisnis online ke depan bukan lagi sekadar bagaimana mendapatkan lebih banyak order. Yang lebih penting adalah bagaimana setiap order dapat menghasilkan keuntungan yang lebih besar.

Karena di tengah kondisi ekonomi seperti sekarang, seller yang bertahan bukan selalu yang paling banyak berjualan, melainkan yang paling efisien mengelola bisnisnya.