Tidak semua customer yang kecewa akan menyampaikan komplain. Ada yang memilih diam, memberikan rating biasa saja, atau bahkan tidak pernah kembali berbelanja. Karena itu, tidak adanya komplain bukan selalu berarti pengalaman customer sudah baik.

Dalam bisnis online, customer bisa pergi karena banyak hal kecil yang terjadi sepanjang proses pesanan. Mulai dari produk sulit ditemukan, packing kurang rapi, pesanan terlambat diproses, hingga barang yang diterima tidak sesuai ekspektasi. Masalahnya, sebagian dari pengalaman tersebut terjadi di belakang layar.

Customer Bisa Pergi Tanpa Mengajukan Komplain

Customer yang kecewa belum tentu menghubungi customer service. Bagi sebagian orang, mengajukan komplain membutuhkan waktu dan tenaga. Jika pengalaman buruk hanya terjadi sekali, mereka mungkin memilih diam. Namun, ketika ingin membeli lagi, mereka bisa langsung memilih toko lain.

Inilah yang membuat bisnis perlu melihat customer experience lebih luas. Jangan hanya mengukur jumlah komplain. Perhatikan juga repeat order, rating toko, retur, keterlambatan pengiriman, dan pola pembelian customer.

Pengalaman Customer Dimulai Sebelum Paket Sampai

Customer memang tidak melihat gudang Anda. Mereka tidak tahu bagaimana produk disimpan, bagaimana barang dicari, atau siapa yang melakukan packing.

Namun, mereka merasakan hasil dari semua proses tersebut.

Ketika proses picking tidak teratur, barang bisa lebih lama diproses. Ketika stok tidak terpantau dengan baik, pesanan bisa mengalami kendala. Sementara itu, packing yang terburu-buru dapat meningkatkan risiko barang rusak atau pesanan tidak sesuai.

Karena itu, pengalaman customer sebenarnya sudah dimulai sejak order masuk.

1. Pesanan Diproses Terlalu Lama

Customer mungkin tidak langsung komplain ketika pesanan belum diproses. Akan tetapi, mereka tetap bisa memperhatikan berapa lama toko membutuhkan waktu untuk menyiapkan barang.

Pada marketplace, kecepatan proses juga dapat memengaruhi persepsi customer terhadap toko. Semakin lama pesanan tertahan sebelum dikirim, semakin besar kemungkinan customer merasa pengalaman belanjanya kurang baik.

Proses fulfillment yang terstruktur dapat membantu mempercepat alur mulai dari order diterima, picking, packing, hingga barang diserahkan kepada kurir.

2. Packing Tidak Konsisten

Kemasan bukan hanya soal tampilan. Packing juga menunjukkan bagaimana sebuah bisnis memperlakukan pesanan customer.

Bayangkan customer pertama menerima paket dengan kemasan rapi dan aman. Pada pembelian berikutnya, kemasannya berbeda, kurang rapi, atau perlindungannya tidak sesuai dengan karakter produk.

Customer mungkin tidak akan mengajukan komplain. Namun, pengalaman tersebut tetap bisa memengaruhi keputusan mereka untuk membeli kembali.

Karena itu, standar packing penting terutama ketika jumlah order mulai meningkat.

3. Barang Datang Benar, Tapi Pengalamannya Biasa Saja

Tidak semua customer mengharapkan kemasan yang mewah. Namun, mereka mengharapkan proses yang berjalan sesuai janji.

Produk harus sesuai pesanan. Jumlahnya benar. Kondisinya baik. Kemasan cukup melindungi barang. Paket juga datang dalam waktu yang wajar.

Hal-hal tersebut terlihat sederhana, tetapi justru menjadi bagian penting dari customer experience.

Customer mungkin tidak mengatakan, “Packing Anda sudah bagus.” Namun, pengalaman yang konsisten dapat menjadi alasan mereka kembali membeli.

4. Salah Kirim yang Terjadi Sesekali Tetap Bisa Berdampak

Satu kesalahan mungkin terlihat kecil bagi bisnis. Namun, bagi customer yang menerima produk berbeda, dampaknya bisa cukup besar.

Mereka harus menghubungi seller, menunggu solusi, melakukan retur, atau menunggu barang pengganti.

Bahkan jika masalah akhirnya selesai, pengalaman belanjanya sudah berubah.

Karena itu, proses picking perlu dibuat terstruktur. Penggunaan barcode, penataan SKU, pengecekan pesanan, serta sistem inventory dapat membantu mengurangi risiko kesalahan operasional.

5. Stok Tidak Akurat Bisa Merusak Kepercayaan

Customer membeli karena melihat produk tersedia. Masalah muncul ketika setelah order masuk ternyata barang tidak tersedia atau jumlahnya tidak sesuai.

Situasi seperti ini dapat membuat customer kecewa meskipun mereka tidak selalu menyampaikan komplain.

Untuk bisnis dengan banyak SKU dan channel penjualan, pemantauan stok menjadi semakin penting. Data inventory yang lebih terorganisir membantu seller mengetahui kondisi stok dan mengurangi risiko menerima order untuk barang yang sebenarnya sudah habis.

Jangan Hanya Bertanya, “Ada Komplain?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apa yang membuat customer mau kembali?”

Coba lihat beberapa indikator berikut:

Data tersebut dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai pengalaman customer.

Fulfillment Bukan Sekadar Menyimpan Barang

Ketika order masih sedikit, proses penyimpanan dan pengiriman mungkin masih bisa dilakukan sendiri. Namun, ketika order bertambah, kompleksitas operasional ikut meningkat.

Seller harus mengelola stok, mencari barang, melakukan picking, packing, memberi label, mengatur pengiriman, sekaligus memastikan setiap pesanan berjalan sesuai prosedur.

Di sinilah fulfillment dapat membantu.

Dengan proses yang lebih terstruktur, aktivitas penyimpanan, inventory, picking, packing, hingga pengiriman dapat dikelola dalam satu alur operasional. Integrasi marketplace dan website juga dapat membantu order masuk diproses lebih terorganisir.

Dokumentasi Packing Juga Penting

Bagaimana jika customer mengatakan barang yang diterima tidak sesuai atau packing bermasalah?

Dokumentasi proses dapat membantu bisnis melakukan pengecekan.

Di area packing Faspoint, terdapat kamera yang mendokumentasikan aktivitas proses packing. Fungsinya bukan untuk menjamin tidak ada kesalahan, tetapi membantu proses pengecekan ketika terjadi pertanyaan atau komplain terkait pesanan.

Dengan begitu, bisnis memiliki informasi tambahan untuk mengevaluasi apa yang terjadi selama proses fulfillment.

Customer Experience Dibangun dari Hal-Hal Kecil

Customer tidak selalu pergi karena satu kesalahan besar. Terkadang, keputusan tersebut terbentuk dari beberapa pengalaman kecil yang terjadi berulang.

Pesanan sedikit terlambat. Packing kurang rapi. Stok tidak akurat. Pernah menerima barang yang salah. Respons terhadap kendala juga kurang cepat.

Masing-masing mungkin terlihat kecil. Namun, jika terjadi berkali-kali, customer bisa mulai mencari alternatif tanpa pernah menyampaikan alasan sebenarnya.

Karena itu, menjaga customer experience bukan hanya tugas customer service atau tim marketing. Operasional fulfillment juga memiliki peran besar.

Faspoint Membantu Seller Menjaga Proses Order Tetap Teratur

Faspoint membantu seller mengelola proses fulfillment mulai dari penyimpanan, inventory, picking, packing, labeling, hingga pengiriman.

Dengan dukungan integrasi marketplace dan website, pemantauan stok, tracking pesanan, barcode, serta proses packing yang terdokumentasi, seller dapat lebih fokus pada pengembangan bisnis tanpa harus menangani seluruh pekerjaan operasional sendiri.

Karena pada akhirnya, customer mungkin tidak pernah melihat gudang Anda. Mereka hanya melihat hasil akhirnya: apakah pesanannya benar, aman, rapi, dan sampai sesuai harapan.

Dan sering kali, itulah yang menentukan apakah mereka akan kembali atau memilih toko lain.

Satu Ekosistem untuk Berbagai Kebutuhan Bisnis

Fasdeli Group hadir untuk membantu bisnis mengelola berbagai kebutuhan, mulai dari impor, freight forwarding, trucking, fulfillment, pengiriman uang, hingga pembiayaan impor.

Fasdeli Group, solusi terintegrasi untuk mendukung bisnis Anda