Musim belanja seperti Harbolnas, payday sale, Ramadan, atau campaign marketplace sering membuat jumlah pesanan meningkat drastis. Bagi seller, kondisi ini tentu menjadi peluang untuk meningkatkan penjualan. Namun, lonjakan order juga membawa risiko lain: overselling.

Overselling terjadi ketika jumlah barang yang terjual lebih banyak daripada stok yang sebenarnya tersedia. Kondisi ini bisa terjadi ketika stok tidak diperbarui dengan cepat, pesanan masuk dari berbagai channel, atau pencatatan inventory masih dilakukan secara manual.

Jika tidak ditangani, overselling dapat membuat seller harus membatalkan pesanan, mengecewakan customer, bahkan kehilangan kepercayaan.

Kenapa Overselling Sering Terjadi Saat High Season?

Saat kondisi normal, pengelolaan stok mungkin masih bisa dilakukan secara manual. Namun, ketika order meningkat, jumlah transaksi yang harus diproses juga ikut bertambah.

Belum lagi jika produk dijual melalui beberapa marketplace dan website sekaligus. Satu produk dapat terjual di beberapa channel dalam waktu hampir bersamaan.

Jika informasi stok tidak diperbarui secara real-time, sistem bisa menampilkan jumlah stok yang sebenarnya sudah habis.

1. Pastikan Data Stok Selalu Akurat

Langkah pertama untuk mencegah overselling adalah memastikan jumlah stok yang tercatat sesuai dengan kondisi fisik.

Lakukan pengecekan inventory secara rutin, terutama untuk produk yang memiliki tingkat penjualan tinggi.

Semakin akurat data stok, semakin kecil kemungkinan seller menjual barang yang sebenarnya sudah tidak tersedia.

2. Pantau Produk yang Paling Banyak Terjual

Tidak semua produk memiliki tingkat permintaan yang sama.

Saat musim belanja padat, identifikasi SKU yang diperkirakan menjadi produk paling laris. Produk tersebut perlu mendapatkan perhatian lebih dalam pengelolaan stok.

Dengan mengetahui produk yang paling cepat bergerak, seller dapat mempersiapkan stok dan kapasitas operasional lebih awal.

3. Gunakan Sistem Inventory Terintegrasi

Jika bisnis menjual melalui banyak channel, pengelolaan stok secara manual akan semakin sulit.

Sistem inventory yang terintegrasi dapat membantu memperbarui informasi stok berdasarkan aktivitas order. Dengan begitu, seller memiliki visibilitas yang lebih baik terhadap jumlah barang yang tersedia.

Hal ini sangat penting ketika beberapa pesanan masuk dalam waktu yang berdekatan.

4. Pisahkan Stok Fisik dan Stok yang Sudah Dipesan

Stok yang terlihat di gudang belum tentu semuanya masih tersedia untuk dijual.

Sebagian barang mungkin sudah dialokasikan untuk pesanan yang sedang diproses. Karena itu, seller perlu membedakan antara stok fisik, stok tersedia, dan stok yang sudah dialokasikan untuk order.

Pengelolaan seperti ini membantu memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai jumlah barang yang benar-benar dapat dijual.

5. Siapkan Stok Sebelum Campaign Dimulai

Jangan menunggu campaign dimulai untuk memeriksa kesiapan inventory.

Gunakan data penjualan sebelumnya untuk memperkirakan produk yang kemungkinan mengalami peningkatan permintaan. Kemudian, siapkan stok dan kapasitas operasional sesuai dengan perkiraan tersebut.

Dengan persiapan lebih awal, tim gudang memiliki waktu untuk menata barang dan mempersiapkan proses fulfillment.

6. Pastikan Proses Gudang Mampu Mengikuti Order

Mencegah overselling bukan hanya soal jumlah stok.

Ketika order meningkat, proses picking, checking, dan packing juga harus mampu mengikuti. Jika order terlalu lama diproses, informasi stok dan status pesanan dapat menjadi tidak sinkron.

Karena itu, kapasitas gudang harus dipersiapkan bersamaan dengan strategi inventory.

Jangan Tunggu Overselling Terjadi

Overselling sering kali baru disadari setelah seller menerima lebih banyak pesanan daripada barang yang tersedia.

Padahal, risiko tersebut dapat dikurangi melalui pengelolaan inventory yang lebih terstruktur.

Mulai dari memastikan data stok akurat, memantau SKU dengan penjualan tinggi, menggunakan sistem terintegrasi, hingga mempersiapkan kapasitas gudang sebelum high season.

Faspoint Membantu Menjaga Inventory Tetap Terkontrol

Faspoint menyediakan layanan fulfillment yang mencakup penyimpanan, inventory management, picking, checking, packing, hingga pengiriman.

Dengan dukungan pengelolaan inventory yang lebih terstruktur, seller dapat memantau stok dan aktivitas order dengan lebih baik. Hal ini membantu bisnis menghadapi peningkatan volume pesanan tanpa harus menangani seluruh operasional gudang sendiri.

Ketika musim belanja semakin padat, seller tidak cukup hanya menyiapkan promo.

Pastikan stok akurat, sistem inventory siap, dan operasional gudang mampu mengikuti lonjakan order. Dengan begitu, peluang penjualan dapat dimaksimalkan tanpa harus mengorbankan pengalaman customer.