
Harbolnas menjadi salah satu momen yang paling ditunggu seller online. Promo besar, diskon, dan campaign marketplace dapat meningkatkan jumlah pesanan dalam waktu singkat.
Namun, lonjakan order juga bisa menjadi tantangan. Seller yang biasanya memproses puluhan pesanan per hari mungkin harus menghadapi ratusan bahkan ribuan order dalam periode yang sama.
Masalahnya, tidak semua seller sudah menyiapkan operasional untuk menghadapi lonjakan tersebut. Akibatnya, order menumpuk, stok tidak akurat, proses packing melambat, hingga pengiriman terlambat.
Lantas, apa saja kesalahan yang masih sering terjadi saat Harbolnas?
1. Tidak Menyiapkan Stok Sejak Awal
Kesalahan pertama adalah menganggap persiapan stok bisa dilakukan setelah campaign dimulai.
Padahal, seller perlu memperkirakan produk mana yang berpotensi mengalami peningkatan permintaan. Stok kemudian perlu disiapkan dan ditempatkan di lokasi yang mudah diakses agar proses pengambilan barang tidak memakan waktu terlalu lama.
Masalah juga dapat muncul ketika jumlah stok di sistem tidak sesuai dengan stok fisik. Saat order meningkat, selisih kecil saja bisa menyebabkan seller kesulitan memenuhi pesanan.
Karena itu, pengecekan stok sebelum Harbolnas menjadi langkah penting. Seller perlu memastikan data inventory sudah diperbarui dan produk yang dipromosikan memiliki stok yang cukup.
2. Mengandalkan Proses Packing Manual
Saat jumlah order masih sedikit, packing manual mungkin tidak menjadi masalah.
Namun, situasinya berbeda ketika order meningkat secara drastis.
Pesanan yang harus dicetak, barang yang harus diambil, produk yang harus dicek, kemudian dikemas satu per satu dapat membuat proses semakin lambat. Risiko salah produk atau salah jumlah juga dapat meningkat ketika volume pekerjaan terlalu tinggi.
Seller perlu memiliki alur pick & pack yang jelas. Penggunaan barcode, sistem order management, serta area packing yang tertata dapat membantu mempercepat proses sekaligus mengurangi kesalahan.
3. Tidak Memperhitungkan Kapasitas Operasional
Banyak seller fokus mengejar penjualan saat Harbolnas, tetapi lupa menghitung kemampuan operasional.
Promo berhasil meningkatkan order. Namun, apakah gudang mampu menyimpan tambahan stok? Apakah tim mampu melakukan packing? Apakah pesanan dapat diserahkan ke kurir sesuai target?
Jika jawabannya belum siap, lonjakan order justru dapat menciptakan backlog.
Karena itu, persiapan Harbolnas tidak hanya berkaitan dengan marketing. Seller juga perlu menghitung kapasitas penyimpanan, tenaga kerja, proses picking, packing, hingga pengiriman.
4. Mengabaikan Integrasi Order
Ketika seller berjualan melalui beberapa channel, pengelolaan order menjadi semakin kompleks.
Pesanan dari marketplace, website, dan channel lainnya perlu dipantau secara bersamaan. Jika semuanya dikelola secara manual, seller dapat menghabiskan banyak waktu hanya untuk memindahkan atau mencocokkan data pesanan.
Selain itu, perubahan stok yang tidak langsung diperbarui dapat menimbulkan risiko overselling.
Integrasi sistem dapat membantu menghubungkan pesanan dengan inventory. Dengan begitu, seller dapat memantau order dan stok dari sistem yang lebih terpusat.
5. Baru Memikirkan Retur Setelah Harbolnas
Harbolnas tidak selesai ketika semua pesanan berhasil dikirim.
Setelah campaign berakhir, seller masih harus menghadapi kemungkinan retur, penukaran barang, atau komplain pelanggan.
Jika proses retur tidak memiliki alur yang jelas, barang yang kembali dapat bercampur dengan stok aktif. Akibatnya, pencatatan inventory menjadi semakin sulit.
Seller sebaiknya sudah menentukan bagaimana barang retur diterima, diperiksa, dicatat, dan dikembalikan ke inventory atau dipisahkan apabila kondisinya tidak layak dijual kembali.
Harbolnas Bukan Hanya Soal Mendapatkan Banyak Order
Lonjakan pesanan memang menjadi peluang bagi seller. Namun, kemampuan memenuhi order dengan cepat dan akurat juga menjadi bagian penting dari pengalaman pelanggan.
Karena itu, persiapan Harbolnas sebaiknya dilakukan dari sisi marketing sekaligus operasional.
Mulai dari memastikan stok tersedia, menyiapkan sistem inventory, mengatur alur pick & pack, menghitung kapasitas gudang, hingga menyiapkan proses retur.
Dengan operasional yang lebih siap, seller dapat menghadapi lonjakan order tanpa harus mengorbankan akurasi dan kecepatan layanan.
Siapkan Fulfillment Sebelum Order Membludak
Jika volume pesanan sudah mulai meningkat, mengelola seluruh proses sendiri mungkin membutuhkan semakin banyak waktu, tenaga, dan ruang.
Di sinilah layanan fulfillment dapat membantu.
Faspoint membantu seller mengelola proses fulfillment mulai dari penyimpanan barang, pengelolaan inventory, picking, packing, hingga pengiriman. Dengan sistem yang terintegrasi, seller dapat lebih fokus pada penjualan dan pengembangan bisnis, sementara proses pemenuhan pesanan ditangani dengan alur operasional yang lebih terstruktur.
Jadi, sebelum campaign Harbolnas dimulai, jangan hanya bertanya “berapa banyak order yang bisa didapat?”
Tanyakan juga, “apakah operasional bisnis saya siap memenuhi semua order tersebut?”
Butuh solusi fulfillment untuk menghadapi lonjakan pesanan? Konsultasikan kebutuhan bisnis Anda bersama Faspoint.
Footer Fasdeli Group
Fasdeli Group — solusi bagi kebutuhan bisnis Anda untuk mendukung proses logistik, fulfillment, impor, keuangan, dan pengiriman lintas negara.
- Fastruck — jasa truk logistik: https://fastruck.id/
- Faspoint — jasa fulfillment: https://faspoint.id/
- Genco — jasa impor FCL dan kepabeanan: https://gencoexpress.id/
- Harvest Indoexpress — jasa impor & freight forwarding: https://harvestindoexpress.id/
- Fasremit — layanan pengiriman uang antarnegara: https://fasremit.com/
- Fasdana — layanan pembiayaan impor: https://www.fasdana.id